Khazanah Pemuda Muhammadiyah Mantrijeron

14141594_10206834660279211_1996233118958718489_n

Oleh : Anang Amiruddin

Ketua PCPM Wirobrajad

Salah satu kecamatan di Kota Yogyakarta dengan kekayaan kreativitas sekaligus ghirah para pemudanya, dimana memiliki andil penuh dalam perkembangan dakwah Islam. Maka sungguh sangat berbangga dapat bersilaturrahim sekaligus mengambil banyak pelajaran dari pola gerakan organisasi yang ada di kecamatan ini.

Kecamatan Mantrijeron memiliki sejarah penamaan panjang dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Berasal dari kata mantri yang berarti juru bicara dan jeron atau jero yang berarti “dalam”. Melihat dari perspektif sejarah, Mantrijeron memiliki andil yang sangat besar dalam penentuan segala kebijakan yang ada di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, sehingga dapat disimpulkan bahwa Mantrijeron ini gudangnya para cendekia milik Kraton. Maka sungguh patut disyukuri, warisan sebagai para pemikir dan kreasi dakwah, masih konsisten hadir sebagai generasi lanjutan yang ada di Mantrijeron.

Kiprah untuk menjaga roda generasi lanjutan itu, kini berlanjut di Kecamatan Mantrijeron, khususnya dalam perkembangan dakwah Islam melalui Persyarikatan Muhammadiyah, dimana terbagi menjadi beberapa ortom, yang salah satunya adalah hadirnya Pemuda Muhammadiyah. Tepat pada hari Ahad, 28 Agustus 2016, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Mantrijeron melakukan Musyawarah Cabang untuk merefresh gerakan sekaligus sebagai penjaga dinamisasi perkaderan.

Berbeda dengan ranting atau cabang Pemuda Muhammadiyah yang lain, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Mantrijeron melaksanakan Musyawarah Cabang setiap 2 tahun sekali, dengan inisiatif karena semakin banyaknya kader yang berkembang terutama di tingkat cabang sekaligus ranting yang ada di range Kecamatan Mantrijeron.

Hadirnya pola regenerasi baru tersebut, setiap 2 tahun sekali menjadi keberanian langkah dari Mantrijeron sebagai upaya untuk memaksimalkan langkah. Apalagi di tingkat cabang dan ranting dengan komposisi dinamika yang berbeda, memang membutuhkan sebuah keputusan yang berani, demi terwujudnya dakwah Islam dan generasi Islam yang sustainable. Karena pada hakikatnya dakwah itu haruslah berjalan, tidak terhenti ataupun berhenti, dinamis itu sangat perlu, karena dinamika akan selalu ada di setiap periodenya.

Menariknya di Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Mantrijeron, demisioner atau yang sering disebut sebagai alumni tetap turut andil dalam mendukung gerakan para Pimpinan yang sedang menjabat. Penguatan ini sangat diperlukan terutama untuk menjaga marwah dan ghirah daripada organisasi untuk tetap survive dengan pemikiran dan pandangan yang tajam.

Saya pernah hadir dalam rapat rutin yang diagendakan oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Mantrijeron, sangat menggembirakan melihat pola gerakan yang ada di cabang ini, terlebih lagi dengan alumninya yang selalu memberikan penguatan untuk mengembangkan ruhul ikhlas dan ruhul jihad didalam benak para kadernya.

Bahkan dalam kesempatan tersebut saya juga diberikan informasi terkait dengan pendanaan kegiatan yang sebagian dan seluruhnya pernah memakai uang pribadi para anggotanya dalam menyukseskan kegiatan dakwahnya. Alasannya sangat menggembirakan, “Kurang mengena kalau hanya sekedar menjadi pelaksana kegiatan, dakwah itu harus maksimal, ya iuran nyumbang, bantingan, yang penting ikhlas dan insya Allah dicatat sebagai amal ibadah untuk berjuang di jalan Allah ..” kata salah seorang Kader.

Semangat dan inisiatif seperti ini rasa-rasanya belum pernah saya temui di ranting atau cabang yang lain. Bahkan cabang di Wirobrajan pun harus banyak belajar banyak dengan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Mantrijeron. Salah satu cabang yang memiliki keunggulan tidak hanya bergerak pada semangat dakwahnya saja, namun juga unggul dalam pasukan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) nya. Sukses selalu untuk Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Mantrijeron, semoga di periode selanjutnya dapat menjadi lebih baik, dengan ruhul ikhlas dan ruhul jihad yang senantiasa terjaga dalam setiap langkah dakwahnya. Nahnu Anshorullah, Fastabiqulkhoirot!

Masjid Ngadinegaran, Mantrijeron
Ahad, 25 Dzulkaidah 1437H, 28 Agustus 2016

Related Post