MENGGAPAI KESEMPURNAAN TAQWA

Allah

Andy Putra Wijaya

(Sekretaris Bidang Dakwah PWPM DIY)

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberikan rezki dari arah yang tiada disangka-sangka….”

( Q.S. Ath-Thalaq 2-3 )

Kalau kita perhatikan penggalan dari surat Ath-Thalaq ayat 2-3 diatas, Allah telah berjanji kepada siapa saja yang bertaqwa kepada-Nya untuk memberikan kemudahan atau jalan keluar dalam setiap menghadapi suatu masalah. Bahkan Allah juga akan memberikan rezeki kepadanya secara tidak terduga dan tidak disangka-sangka darimana datangnya rezeki tersebut bagi siapa saja yang bertaqwa kepada-Nya. Kita hidup di dunia ini tentu saja tidak terlepas dari berbagai masalah. Baik permasalahan di keluarga, di sekolah, di masyarakat, dan dimana saja.

Seringkali permasalahan yang kita hadapi menjadikan diri kita merasa memiliki sebuah beban. Beban yanga kita rasakan tersebut terkadang dapat menghambat kita dalam beraktivitas setiap hari. Lebih parah lagi apabila beban yang kita rasakan dapat berpengaruh dalam berprestasi, seperti menurunnya prestasi ataupun menyebabkan kita tidak berprestasi sama sekali. Semua beban permasalahan yang kita hadapi kemungkinan juga akan berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga menyebabkan kita pesimis dan kurang percaya diri dalam menata dan menjalani kehidupan. Namun bagi orang yang bertaqwa allah akan memberikan kemudahan kepadanya dalam menghadapi semua permasalahan. Lantas apakah yangf disebut dengan taqwa itu? Dan bagaimanakah kita dapat mencapai maqam (tempat) atau menjadi orang yang bertaqwa?

Kata taqwa berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari empat huruf yaitu ta’, qaf, waw, dan ya’ yang apabila digabungkan menjadi sebuah kata taqwa yang mempunyai arti sebagai ketakutan. Rasa takut ini yang menyebabkan seseorang rela untuk melakukan sesuatu dan juga menjauhi sesuatu. Tentu saja ketakutan yang dimaksud di sini adalah ketakutan kepada Allah swt sebagai Tuhan semesta alam. Jadi ketaqwaan juga dapat diartikan sebagai “kesadaran seseorang dalam berketuhanan”. Kesadaran yang dimaksud adalah kesadaran tentang adanya allah swt yang maha mengetahui segala tingkah laku manusia serta maha menentukan segala sesuatu. Dengan adanya kesadaran tersebut menyebabkan timbulnya rasa takut kepada Allah, maka seseorang akan tunduk dan patuh terhadap segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

Namun menurut Prof.Dr.Hamka, kata taqwa diambil dari rumpun kata wiqayah yang mempunyai arti memelihara. Maksudnya adalah memelihara hubungan yang baik dengan Tuhan. Dengan kata lain memelihara diri jangan sampai masuk atau terjebak dalam hal-hal yang tidak diridhoi oleh allah swt. Hal ini didasarkan pada suatu riwayat yang pada suatu hari pernah ditanyakan oleh seseorang kepada sahabat Rasulullah,Abu Huraurah. “Apakah arti taqwa itu? Beliau berkata : Pernahkah engkau bertemu jalan yang banyak durinya dan bagaimana tindakanmu waktu itu? Orang itu menjawab : apabila aku melihat duri di jalan, aku akan mengelak ke tempat yang tidak ada durinya atau aku langkahi atau aku mundur. Abu Hurairah menjawab : Itulah Taqwa!”. Masih menurut Prof.Dr. Hamka, taqwa juga tidak selalu diartikan dengan takut, karena dalam taqwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, sabar, dan lain-lainnya. Taqwa merupakan pengalaman atau pelaksanaan dari iman dan amal shalih.

Motivasi taqwa seseorang itu mempunya fase dan tingkatan yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Ada seseorang yang bertaqwa kepada Allah swt itu atas dasar ketakutan dengan siksaan di neraka, dan ada juga yang takut kepada allah swt karena ingin mendapatkan kenikmatan surga. Dalam fase ini biasa disebut dengan ketaqwaan yang menempati maqam biasa. Namun, ada juga orang yang bertaqwa kepada allah swt semata-mata hanya ingin mendapatkan ridho-Nya. Nah, dalam fase ini seseorang tersebut menempati derajat ketaqwaan yang tinggi atau menempati maqam khusus. Ketaqwaan karena motivasi untuk mencari ridho Allah akan menjadikan seseorang dalam melakukan segala aktivitas kehidupannya disandarkan secara total hanya untuk mencari ridho-Nya.

Sekarang seperti apakah sifat atau tanda-tanda orang yang bertaqwa itu? Di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 2-4 diterangkan orang yang bertaqwa yaitu : pertama, mereka yang beriman kepada yang ghaib. Iman merupakan sebuah kepercayaan yang teguh disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Sedangkan ghaib merupakan sesuatu yang tidak dapat disaksikan oleh panca indera baik dilihat oleh mata maupun didengar oleh telinga, namun dapat dirasakan atau diyakini keberadaannya apabila kita menggunakan akal yang sehat dan hati yang bersih. Seperti halnya dengan kabel yang dialiri listrik, maka aliran listrik tersebut tidak akan nampak oleh mata dan tidak dapat didengar oleh telinga. Tetapi ketika kabel yang dialiri listrik tersebut disentuh maka akan terasa keberadaan dan kekuatan listrik tersebut. Itulah bukti bahwa keberadaan sesuatu itu tidak harus terlihat oleh mata dan terdengar oleh telinga. Begitu juga dengan adanya Allah, malaikat, akhirat, surga, dan neraka tidak harus dibuktikan dengan dapat dilihat oleh mata ataupun didengar oleh telinga. Tetapi keberadaan-Nya dapat dilihat dengan akal yang sehat dan hati yang bersih melalui berbagaimacam ciptaan-Nya yang berwujud alam semesta ini. Yang terpenting adalah kita harus tetap mengimani atau meyakini adanya yang ghaib tersebut.

Kedua,  mereka yang mendirikan sholat. Sholat merupakan kewajiban seorang muslim yang wajib didirikan sehari semalam lima kali sebagai bukti ketundukan dan kepatuhan kepada allah swt dan sebagai rasa syukur terhadap-Nya. Sholat juga merupakan perintah allah swt seperti yang tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 43 :

“Dan dirikanlah sholat, tunaikan zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk”.

Shalat juga dapat digunakan untuk memohon pertolongan kepada Allah swt yaitu dengan cara sabar dan sholat sperti yang tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 45 :

“Dan mintalah pertolongan ( kepada Allah ) dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”

Di dalam Al-Qur’an dan hadist tidak pernah ditemukan perintah untuk mengerjakan sholat, melainkan untuk mendirikan sholat. Artinya bahwa sholat itu wajib dikerjakan dengan kesadaran penuh, bukan hanya sebagai kebiasaan semata. Sholat juga harus didirikan semata-mata karena allah swt semata.

Ketiga, mereka yang menafkahkan sebagian rezeki yang dianugerahkan kepada mereka. Di dunia ini orang tidak mungkin hidup dengan sendiri-sendiri. Oleh karena itu orang mukmin harus menjaga harmonisasi sosialnya. Baik dengan cara tolong-menolong, suka membantu, suka memberi, suka bersedekah, dan lain sebagainya. Orang mukmin jangan sampai diperbudak oleh harta benda sehingga ia lebih mencintai harta benda tersebut daripada mencintai Allah swt dan sesama manusia. Sesungguhnya harta benda yang diberikan Allah kepada kita hanyalah sebuah titipan saja. Oleh karena itu kita harus menjaga dan menggunakan harta benda yang dititipkan allah kepada kita itu dengan sebaik-baiknya yaitu dengan menafkahkan sebagian rezeki yang diberikan kepada kita untuk mereka yang membutuhkan.

Keempat, mereka yang beriman kepada kitab ( Al-Qur’an ) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu. Sebagai orang mukmin kita wajib meyakini bahwa Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi umat manusia. Semua peraturan yang terdapat di dalamnya harus kita yakini sebagai jalan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Konsekuensinya kita harus mentaati dan mematuhi semua perintah yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Sedangkan yang dimaksud dengan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu (kita) adalah kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad saw.

Ini menunjukkan bahwa Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad saw adalah Nabi Umat Islam. Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum Nabi Muhammad saw ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an seperti Taurat, Zabur, Injil, dan Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al-Qur’an. Dan pada akhirnya nanti kitab-kitab tersebut akan disempurnakan dengan kitab yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yaitu Al-Qur’an. Sebagai orang mukmin kita wajib mengimani bahwa kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum Nabi Muhammad saw adalah sebagai wahyu dari Allah swt. Namun, dalam perjalanannya sekarang ini kitab-kitab tersebut telah diselewengkan oleh orang-orang yang tidak mampu menerima kebenaran dari Tuhan (“para pengikut kitab-kitab tersebut”). Maka saat ini kita juga wajib meragukan keotentikan atau keaslian kitab-kitab tersebut yang saat ini juga masih dipakai oleh para penganut ajaran kitab-kitab tersebut. Berbeda dengan Al-Qur’an, yang allah sendiri telah berjanji untuk menjaga keasliannya, maka kita tdak perlu untuk meragukan Al-Qur’an.

Kelima, mereka yang yakin dengan adanya kehidupan akhirat. Yakin ialah kepercayaan yang kuat yang tidak dicampuri dengan keraguan sedikitpun. Sedangkan akhirat ialah lawan dari dunia. Yang dimaksud dengan kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia ini berakhir. Disinilah semua amal kebaikan dan amal buruk ditimbang, dan masing-masing akan mendapatkan balasan sesuai apa yang ia usahakan.

Itulah diantara sifat atau tanda-tanda orang yang bertaqwa seperti yang terdapat di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 2-4. Setelah mengetahui sifat atau tanda-tanda orang yang bertaqwa, maka sebagai mukmin kita wajib untuk mengupayakan diri menjadi orang yang bertaqwa. Karena dengan taqwa seseorang akan memperoleh pertolongan dari Allah swt ketika akan membutuhkan pertolongannya. Taqwa juga merupakan wujud ketundukan dan kepatuhan seorang hamba terhadap Tuhannya. Maka seorang hamba harus selalu berusaha untuk menggapai kesempurnaan taqwa supaya Allah swt selalu melimpahkan cinta dan kasih-Nya kepada kita semua. Amien.

 

Related Post